Inspiration

Pentingnya Berbahasa Indonesia bagi Anak Tuli

Marsudiyati Partamaningsih, S.Pd saat ini mengajar di SLB Karnnamanohara, Yogyakarta sejak tahun 1999.

dokumentasi pribadi

Awalnya Aning berkunjung ke berbagai SLB di Yogyakarta pada tahun 1996-1997 dan mengamati kegiatan pembelajaran anak-anak Tuli. Hatinya tergerak memberontak mengapa anak-anak Tuli belum bisa berbahasa dan memahami bahasa. Mereka menjadi fotocopy hanya bisa menyalin tulisan tetapi belum memahami konsep bahasa.

Contohnya, Aning menunjuk tulisan daun pada catatan anak Tuli kelas 4 dan bertanya, ” Apakah kamu tahu bentuk daun?” Anak tersebut diam dan bingung. Lalu dipancing bertanya dengan bahasa isyarat daun, dia diam dan tidak mengerti. Padahal wali kelasnya bilang dia anak pintar. Lalu dia diajak keluar untuk membersamai mengidentifikasi tulisan dengan mencari daun. Barulah dia tahu apa itu daun dan fungsinya.

Hati Aning sedih melihat anak Tuli di SLB tertinggal pengetahuan bahasa tidak seperti pengalaman Aning semasa kecil di SLB Dena Upakara, Wonosobo.

Aning diperkenalkan temannya dengan Roody, seorang seniman berkebangsaan Perancis dan merupakan relawan YATRY (Yayasan Tunarungu Yogyakarta). Dari  YATRY, Aning diperkenalkan Kartika Affandi sang maestro lukis. Mereka membuka SLB yang menangani anak Tuli usia dini pertama di Yogyakarta dan berganti nama Karnnamanohara pada tahun 1999 oleh Kartika.

Karnnamanohara berasal dari bahasa Sansekerta, Karnna artinya telinga dan manohara artinya cantik dilambangkan dengan bunga teratai. Bunga teratai tumbuh di dalam air yang sunyi, tumbuh mekar penuh warna pelangi dengan melihat pesawat, orang tersenyum memandangnya, daunnya digelitik katak melompat-lompat di daunnya. Seperti halnya kupu-kupu tidak tahu warna sayapnya, tapi orang melihat begitu indah warna sayapnya. Secara keseluruhan, arti Karnnamanohara yaitu telinga yang sunyi menjadi bisa mendengar dengan menggunakan visual/mata. Mata-lah yang mendengar warna-warni visual dalam berkomunikasi dan berbahasa yang bermakna.

dokumentasi pribadi

Keprihatinan Aning terhadap kemampuan berbahasa pada anak-anak Tuli di SLB membuat hatinya tergerak untuk mengajar dan membersamai mereka dengan hati yang tulus.

Karena cinta kasih dan kepedulian Aning terhadap pendidikan anak-anak Tuli di SLB, dia kuliah di Universitas PGRI Yogyakarta jurusan Bimbingan dan Konseling tahun 2001 hingga lulus tahun 2005 walaupun ada kendala komunikasi. Akhirnya, Aning berhasil mendapatkan akta mengajar.

Mayoritas anak-anak Tuli di SLB mengalami kesulitan berbahasa yang baik dan benar. Mereka harus dibimbing dengan sabar dan berulang-ulang supaya bisa membuat kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Selama dua puluh dua tahun mengajar di SLB Karnnamnohara, Aning merasa bahagia ketika mengajarkan ilmu bahasa kepada anak-anak Tuli dengan tujuan mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

dokumentasi pribadi

Selama pandemi COVID-19 dengan adanya protokol kesehatan yang ketat dan pembatasan mobilitas, Aning pun tetap mengajar anak-anak Tuli di SLB dengan menggunakan strategi MMR (Metode Maternal Reflektif). Caranya dengan mengambil peristiwa yang terjadi pada anak-anak Tuli selama pandemi dan bersumber pada pengalaman bersama melalui percakapan dari hati ke hati dengan penyajian bahasa yang mudah dipaham secara ekspresif maupun reseptif. Karena percakapan dari hati ke hati merupakan poros penting dari pengembangan bahasa pada anak-anak Tuli sehingga menimbulkan rasa percaya diri untuk berbicara pengalamannya.

dokumentasi pribadi

Adapun beberapa kendala yang harus dihadapi Aning selama pandemi COVID-19 yaitu Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara online terutama pelajaran bahasa bagi anak-anak Tuli. Contohnya: kata “manis”. Anak-anak Tuli tahu satu konsep “RASA” seperti gula manis, sirup manis. Nah, kata “manis” memiliki dua pengertian, yaitu secara konsep dan abstrak. Contoh abstrak kata “manis” diantaranya “mukanya hitam manis”. Masalah yang timbul dari PJJ yaitu orang tua dari anak-anak Tuli belum memahami konsep pembelajaran bahasa, orang tua memiliki kesibukan masing-masing, dan sinyal internet kadang putus-putus sehingga mengganggu pembelajaran.

Aning berpesan bahwa : “Bekal ilmu bahasa yang baik dan benar ini sangat penting karena akan mempermudah komunikasi dengan masyarakat dan mewujudkan manusia Tuli yang mandiri”. Dengan berbahasa Indonesia yang baik dan benar akan membantu anak-anak Tuli untuk bisa menulis kalimat bahasa Indonesia dengan tidak terbolak-balik atau runut. Walaupun anak Tuli tidak dapat berbicara dengan jelas, setidaknya anak itu bisa menulis kalimat ketika berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, ketika membeli barang di warung, anak itu bisa menuliskan di selembar kertas untuk barang-barang yang akan dibeli.

 

Sumber : Hasil Wawancara Junita & Bu Aning

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *