Sejak tahun 2006, Sujito Talare aktif sebagai aktivis sosial dalam memperjuangkan kesetaraan hak bagi disabilitas tuli di Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD). Yaitu, Gerkatin (Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) di Sulawesi Utara (Sulut) yang ia rintis dari tahun 2006 hingga berhasil didirikan pada tahun 2007. Saat ini, Sujito Talare menjabat sebagai sekretaris DPD Gerkatin Sulut. Selain itu, ia juga menjadi penasihat Komunitas Tuli Peduli Bitung (KALEB) dan komunitas Deaf Rider Independen (DRI) Manado.

dokumentasi pribadi
Sujito Talare tergerak hatinya untuk membantu disabilitas Tuli, mengapa? Sebab semua berawal dari dirinya sebagai seorang disabilitas tuli yang selalu mengalami diskriminasi, dianaktirikan, dibully, dilecehkan, dicap dengan berbagai stigma negatif, penolakan di sana sini sejak kecil hingga kini. Hal inilah mendorong dia agar hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang terhadap disabilitas Tuli. Dan bahkan lebih dari itu, disabilitas Tuli bisa hidup setara dalam haknya sebagai warga negara di berbagai lini kehidupan dan penghidupan bermasyarakat serta diperlakukan menjadi manusia bermartabat dan penghormatan atas Hak Asasi Manusia (HAM) yang dimiliki oleh mereka.

dokumentasi pribadi
Bersama komunitas KALEB, Sujito Talare memperjuangkan disabilitas Tuli untuk bisa mandiri dalam bekerja melalui pelatihan pemberdayaan seperti barista, sablon, kerajinan daur ulang barang bekas. Ke depannya, akan diadakan pelatihan literasi yang berhubungan dengan keterampilan dalam membaca menulis dan pelatihan komputer.

dokumentasi pribadi
Selain itu, dia memperjuangkan akses dalam informasi layanan publik, komunikasi dengan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan Bahasa Isyarat Daerah (BISDA) di Sulawesi Utara.
Dalam hal informasi layanan publik, paling banyak disabilitas tuli merasa kesulitan dalam menerima informasi yang ada di area publik. Contohnya, ketika berada di stasiun, mereka tidak bisa mendengar suara dari speaker dan belum adanya layar teks yang berjalan. Demikian juga, bila ada pertemuan besar melibatkan disabilitas tuli agar disediakan JBI (Juru Bahasa Isyarat) sehingga mempermudah disabilitas tuli dalam menerima informasi yang disampaikan.
Baik masyarakat umum maupun pemerintah, bahasa isyarat belum terlalu dikenal. Baru ada dua orang JBI (Juru Bahasa Isyarat) Bisindo dan Bisda (Bahasa Isyarat Daerah) yakni satu JBI tuli dan satu JBI dengar. Dan itu belumlah cukup mengakomodir kebutuhan disabilitas tuli dalam hal aksesibilitas komunikasi

dokumentasi pribadi
Perjuangan Sujito Talare tidaklah mudah, banyak rintangan yang ia hadapi khususnya untuk kalangan disabilitas Tuli di Sulawesi Utara, sebab belum adanya aksesibilitas penerjemah Juru Bahasa Isyarat (JBI) dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Masih ada beberapa sekolah dan penyedia lapangan kerja yang menolak disabilitas tuli dengan alasan sulitnya komunikasi. Serta sulitnya membuktikan bahwa dia benar-benar disabiltas Tuli sebab bisa berbicara sebaik orang normal pada umumnya.
Di sini, ada paradigma keliru bahwa disabilitas Tuli identik dengan tidak bisa bicara bagus. Bagi mereka, disabilitas Tuli yang bisa berbicara bagus itu dianggap pura-pura Tuli ditambah lagi yang bersangkutan tidak pernah sekolah di SLB tetapi di sekolah umum. Hal inilah yang masih menjadi bahan perdebatan tersendiri dan menjadikan alasan dia ditolak sebagai seorang disabilitas Tuli dan aktivis Tuli.

dokumentasi pribadi
Hal lainnya, karena kedisabilitasan seorang Tuli tidak kentara karena secara fisik terlihat normal, ditambah lagi dia bisa berbicara layaknya orang normal maka banyak masyarakat dan kalangan pemerintah mencap ia hanya memanfaatkan disabilitas Tuli untuk popularitas dan pencitraan. Syukurlah, saat ini masyarakat dan kalangan pemerintah mulai sadar dan memahami bahwa disabilitas Tuli itu adalah tidak bisa mendengar atau pendengaran terbatas, bukan tidak bisa berbicara atau bisu.

dokumentasi pribadi
Selain itu, iri hati, kecemburuan sosial, fitnah, dan penolakan di sana-sini lebih banyak dia dapatkan justru dari kalangan disabilitas Tuli itu sendiri. Namun hal ini menjadi pendorong bagi Sujito Talare untuk lebih giat lagi berjuang dan berkarya bagi kaum disabilitas.
Harapannya ke depan, bahwa “Disabilitas Tuli memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) yang sama dalam setiap lini kehidupan dan berhak mendapatkan kesetaraan dalam berkarya dan kebebasan berekspresi tanpa mengalami diskriminasi”. Sehingga bisa berdampingan dengan masyarakat secara harmonis dan penuh rasa persaudaraan.
Sumber : Hasil Wawancara Junita dan Pak Sujito
Dokumentasi : Pak Sujito